Salah Tingkah Akibat Sebuah “Pertanyaan Mudah”

Salah Tingkah Akibat Sebuah “Pertanyaan Mudah”
Salah Tingkah Akibat Sebuah “Pertanyaan Mudah”

Pada setiap penyelenggaraan Pemilu maupun Pilkada, selalu saja ada hal-hal kecil yang terjadi, yang dapat merubah suasana begitu rupa. Salah satunya adalah apa yang terjadi beberapa hari lalu, saat tim penelitian faktual administrasi KPU Kota Banjarbaru mengunjungi salah seorang warga. Karena tercatat ganda pada lebih dari satu partai politik, tim mencari dan mengunjungi seorang warga yang kebetulan adalah seorang perempuan yang dapat dikatakan sudah berumur.

Setelah tim menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan kepada beliau, serta meminta beberapa informasi terkait, tibalah tim pada pertanyaan inti. “Jadi, ibu akan memilih jadi anggota partai politik yang mana? Pilih salah satu saja Bu, jangan semuanya,” tanya tim kepada beliau.

Ibu tersebut nampak diam sejenak. Mungkin sedang berpikir untuk membuat keputusan akan menjadi partai politik yang mana baiknya. Setelah beberapa saat, meluncurlah sebuah pertanyaan dari beliau, “Terserah saja yang mana, baiknya yang mana? Pokoknya mana yang baik saja,” ucap beliau.

Demi mendengar pertanyaan beliau. Tidak perlu lama untuk tim merespon beliau. Hanya saja, tim cuma bisa merespon dengan tertawa bersamaan tanpa komando. Bukan apa-apa, hanya saja tim terpaksa tertawa karena salah tingkah. Ya, memang salah tingkah. Bagaimana tidak? Karena sejatinya itu adalah pertanyaan yang sederhana mungkin bagi mayoritas orang. Partai mana yang lebih baik, itu saja pertanyaannya. Parameter bagaimana yang baik, setiap orang bisa saja miliki parameter yang berbeda dan terlepas dari parameter² normatif.

Namun, manakala itu diajukan kepada penyelenggara pemilu, maka jawabannya menjadi tidak mudah, dan menjawabnya juga menjadi tidak bisa serta merta. Tentu saja, lebih prinsip lagi, kami tidak boleh menjawab bahwa salah satu partai lebih baik dari partai yang lain.  Penyelenggara harus netral. Itu kode etik.

Lantas, bagaimana cara menjawab pertanyaan beliau tadi? Tentu saja kami sudah punya cara untuk menjawabnya, pakai teknik.

Menurut kengkawan, bagaimana caranya?

*Ditulis oleh: NZ